• Sabtu, 14 Juli 2012

      KH. Muntaha Al-Hafizh, Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat

      Sekapur sirih Tentang Mbah Mun


      KH Muntaha al-Hafiz bin Asy`ari bin `Abdul Rahim bin Muntaha bin Muhammad adalah pengasuh dan penerus Pondok Pesantren Tahfidzul Quran al-Asy`ariyyah. Beliau dilahirkan pada 9 Julai 1912 di desa Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau memulakan pengajian formal agamanya di Darul Maarif, Banjarnegara di bawah asuhan Syaikh Muhammad Fadhlullah as-Suhaimi yang masih terhitung kerabatnya. Setelah tamat di Darul Maarif, beliau meneruskan mondok di Pesantren Tahfidzul Quran Kaliwungu, Kendal di bawah asuhan K.H. Utsman sehingga berhasil menghafal al-Quran ketika berusia 16 tahun. Setelah itu, beliau mendalami ilmu qiraah di Pesantren Krapyak dengan Kiyai Munawwir. Ilmu hadits, fiqh dan tafsir didalaminya di Pesantren Termas, Pacitan di bawah asuhan Kiyai Dimyathi.
      Dalam perjuangan mendapatkan kemerdekaan negara Indonesia, KH Muntaha tidak ketinggalan berjuang menjadi komandan BMT (Barisan Muslimin Temanggung) yang bertempur dengan penjajah Belanda di Palangan Ambarawa. Kiyai Muntaha juga terkenal sebagai seorang ulama multidimensi yang mempunyai berbagai idea yang cemerlang. Dalam dunia pendidikan KH Muntaha al-Hafiz merupakan teladan karena keberhasilannya mengembangkan pendidikan di bawah naungan Yayasan al-Asy'ariyyah. Yayasan tersebut saat ini menaungi berbagai tangga pendidikan, antara lain, Taman Kanak-kanak (TK) Hj. Maryam, Madrasah Diniyah Wustho, Madrasah Diniyah `Ulya, Sekolah Madrasah Salafiyah al-Asy'ariyyah, Tahfidzul Qur'an, SMP Takhasus Al-Quran, SMU Takhasus al-Quran, SMK Takhasus al-Quran, Universitas Sains al-Quran (UNSIQ), khusus untuk Perguruan Tinggi UNSIQ ini di bawah naungan Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu al-Quran (YPIIQ). Selain mengatur soal pendidikan, beliau turut aktif menjalankan dakwah bahkan beliaulah yang membentuk Korps Dakwah Santri (KODASA). Korps ini merupakan wadah bagi aktiviti santri Pondok Pesantren Al-Asy'ariyyah dalam menyiarkan Islam, baik yang diperuntukkan bagi kalangan santri (sesama santri) dalam rangka meningkatkan kualiti diri, maupun kepada masyarakat banyak.



      Dalam perjuangan memasyarakatkan al-Quran, KH Muntaha telah mendirikan Yayasan Himpunan Penghafal al-Quran sebagai wadah untuk menghimpunkan para hafiz dan hafizah. Kepada murid-muridnya, beliau anjurkan agar mengkhatam al-Quran seminggu sekali. Selain menghafal al-Quran, beliau turut mengarang sebuah tafsir al-Quran diberi jodol "Tafsir al-Munthaha".

      KH. Muntaha Al-Hafizh 
      Kecintaan Allahuyarham Mbah Muntaha sapaan akrab KH. Muntaha Al-Hafizh Kalibebeber Wonosobo terhadap Al-Qur’an tak dapat diragukan lagi. Hampir seluruh usianya dihabiskan untuk menyebarkan dan menghidupkan Al-Qur’an.
      Yang Paling monumental adalah gagasannya membuat mushaf Al-Qur’an Akbar (Al-Qur’an Raksasa) dengan tinggi 2 meter, lebar 3 meter dan berat 1 kuintal lebih. Sebuah karya maha agung yang sempat dikala itu diusulkan masuk ke Guiness Book Of Record.
      KH Muntaha al-Hafizh lahir di desa Kalibeber kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo dan wafat di RSU Tlogorejo Semarang, Rabu 29 Desember 2004 dalam usia 94 tahun. Ada beberapa keterangan berbeda tentang kapan tepatnya Mbah Muntaha Lahir.
      Pertama, ada yang mengatakan Kiai Muntaha lahir pada tahun 1908. Kedua, ada pula yang menyatakan bahwa Kiai Muntaha lahir pada tahun 1912. Hal ini didasarkan pada dokumentasi pada KTP / Paspor dan surat-surat keterangan lainnya, Mbah Muntaha lahir pada tanggal 9 Juli 1912.
       Kiai Muntaha adalah putra ketiga dari pasangan KH. Asy’ari dan Ny. Safinah. Sebelum Kiai Muntaha,  telah lahir dua kakaknya, yakni Mustaqim dan Murtadho.
      Sejak kecil hingga dewasa, Kiai Muntaha menimba banyak ilmu dari sejumlah Kiai Pesantren. Sebelum itu, Kiai Muntaha mendapat didikan langsung dari kedua orang tuanya, KH. Asy’ari dan Ny. Safinah.
      Lahir dalam keluarga Pesantren, Kiai Muntaha banyak memperoleh didikan berharga dari Ayah dan Ibundanya seperti membaca Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman.   Kedua orang tuanya memang dikenal sangat telaten dan sabar dalam mendidikan putra-putrinya.
      Selanjutnya dari Kalibeber, Kiai Muntaha memulai perjalanan menuntut ilmunya ke berbagai Pesantren di tanah air. Kiai Muntaha sebagaimana umunya santri dizaman itu berkenala untuk mencari ilmu dari Pesantren ke Pesantren berikutnya.
      Ada satu hal sangat menarik berkaitdan dengan proses pencarian ilmu Kiai Muntaha saat masih muda. Ketika Kiai Muntaha berangkat menuntut ilmu ke, Pesantren Kaliwungu,Pesantren Krapyak, dan Pesantren Termas, ia selalu menempuh perjalanan dengan cara berjalan kaki. Melakukan riyadhah demi mencari ilmu semacam itu dilakukan Kiai Muntaha dengan niatan ikhlas demi memperoleh keberkahan ilmu.
      Di setiap melakukan perjalanan menuju Pesantren, Kiai Mutaha selalu memanfaatkan waktu sambil mengkhatamkan Al-Qur’an saat beristirahat untuk melepas lelah. Kisah ini menunjukkan kemauan keras dan motivasi spiritual yang tinggi yang dimiliki Kiai Muntaha dalam mencari ilmu.
      Setelah berkenalan dari berbagai Pesantren, Kiai Muntaha kembali ke Kalibeber pada tahun 1950. Ia kemudian meneruskan kepemimpinan ayahnya dalam mengembangkan Al- Asy’ariyyah di desa kelahirannya, Kalibeber, Wonosobo.Di bawah kepemimpinan Mbah Muntaha inilah, Al-Asy’ariyyah berkembang pesat. Berbagai kemajuan signifikan terjadi masa ini.
      Dalam kehidupan keluarga dan masyarakat, KH. Muntaha adalah pribadi yang bersahaja. Mbah Muntaha sangat sayang kepada keluarga, santri dan juga para tetangga, serta masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
      Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat
      Kecintaan Kiai Muntaha terhadap Al-Qur’an sebenarnya berawal dari kecintaan ayahandanya , Kiai Asy’ari terhadap Al-Qur’an. Dalam usia relatif muda yakni 16 tahun, Kiai Muntaha telah menjadi hafizh Al-Qur’an.
      Hampir seluruh hidup Mbah Muntaha didedikasikan untuk mengamalkan dan mengajarkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada para santrinya dan juga pada masyarakat umumnya.
       Dalam kesehariannya Mbah Muntaha selalu mengajar para santri yang menghafalkan Al-Qur’an. Para santri selalu tertib dan teratur satu per satu memberikan setoran hafalan kepada Kiai Muntaha. Mbah Muntaha selalu berjuang untuk menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada santri-santrinya.
      Sepanjang hidup Mbah Muntaha, Al Qur’an senantiasa menjadi pegangan utama dalam mengambil  berbagai keputusan, sekaligus menjadi media bermunajat kepada Allah Swt. Mbah Muntaha tidak pernah mengisi waktu luang kecuali dengan Al-Qur’an.
      Sering Kiai Muntaha mebaca wirid atau membaca ulang hafalan Al-Qur’an di pagi hari seraya berjemur. Menurutnya, wirid dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an. Itulah sebabnya, Kiai Muntaha menasehati para santri untuk mengkhatamkan Al-Qur’an paling tidak seminggu sekali.
      Kecintaan Kiai Muntaha terhadap Al-Qur’an juga diwujudkan melalui pengkajian tafsir Al-Qur’an, dengan menulis tafsir maudhu’i atau tafsir tematik yang dikerjakan oleh sebuah tima yang diberi nama Tima Sembilan yang terdiri dari sembilan orang ustadz di Pesantren Al-Asy’ariyyah dan para dosen di Institut Ilmu Al-Qur’an (sekarang UNSIQ) Wonosobo. Gagasan Kiai Muntaha tentang penulisan tafsir ini mengandurng maksud untuk menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an kepada masyarakat luas.
      Dan puncak realisasi kecintaan Kiai Muntaha terhadap Al-Qur’an ditunjukkan dengan perealisasian idenya tentang penulisan Al-Qur’an dalam ukuran raksasa yang sering disebut dengan Al-Qur’an akbar utuh 30 juz.
      Al-Qur’an akbar itu ditulis oleh dua santri Al-Asy’ariyyah yang juga mahasiswa IIQ yaitu H. Hayatuddin dari Grobogan dan H. Abdul Malik dari Yogyakarta.  Ketika penulisan Al-Qur’an akbar yang kertasnya merupakan bantuan dari Menteri Penerangan (H. Harmoko di kala itu) itu selesai, Al-Qur’an itu pun diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia di istana negara.
      Mungkin Kiai Muntaha melihat banyak orang Islam telah meninggalkan Al-Qur’an, atau bahkan sama sekali tidak mau membaca Al-Qur’an, sehingga Mbah Muntaha tidak henti-hentinya menasehati anggota Hufadz wa Dirasatal Qur’an (YJHQ) untuk terus memasyarakatkan Al-Qur’an. Dakwah serupa juga selalu Mbah Muntaha sampaikan saat Beliau berkunjung ke berbagai belahan dunia seperti Turki, Yordania, Mesir dan lain sebagainya.
      Dari hal-hal yang sudah disebutkan, menjadi jelas bahwa sosok dan pribadi Kiai Muntaha al-Hafidz adalah sosok sosok yang sangat mencintai Al-Qur’an secara fisik maupu nbatin. Seluruh hidupnya diperuntukkan untuk berdakwah menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an ke masyarakat. 



      KH Muntaha al-Hafiz menghembuskan nafasnya yang terakhir pada hari Rabu, 29 Disember 2004 dalam usia kira-kira 92 tahun. 
      Semoga beliau selalu digolongkan menjadi Ahlul Al-Quran hidup bersama para Sidiqin Syuhadak dan para Solikhin ila yaumiddin wa ila Jannatinna`im dan 
      Mudah-mudahan rahmat Allah sentiasa dilimpahkan ke atas beliau, guru-guru beliau ,Keluarga dan dzuriyyah beliau  serta  muslimin  muslimat sekaliannya.........al-Fatihah






      Minggu, 17 Juni 2012

      Manfaat Terapi Bekam







      1. Manfaat Dari Bekam Kering,

      Mengatasi Masalah Masuk Angin

      Menghilangkan Rasa Sakit Pada Paru-Paru Yang Kronis

      Menahan Derasnya Darah Haid Dan Hidung Mimisan

      Meringankan Rasa Sakit Dan Mengurangi Penumpukkan Darah

      Melenturkan Otot-Otot Yang Tegang

      Radang Urat Saraf Dan Radang Sumsum Tulang Belakang

      Pembengkakan Liver

      Radang Ginjal Dan Wasir
      2. Manfaat Bekam Basah,

      Memberihkan Darah Dari Racun-Racun Sisa Makanan Dan Dapat Meningkatkan Aktifitas Saraf Tulang Belakang (Vertebra)

      Mengatasi Tekanan Darah Yang Tidak Normal Dan Pengapuran Pada Pembuluh Darah (Arteriosklerosis)

      Menghilangkan Pusing-Pusing, Memar Dibagian Kepala, Wajah, Migraine Dan Sakit Gigi

      Menghilangkan Kejang-Kejang Dan Keram Pada Otot

      Memperbaiki Permeabilitas Pembuluh Darah

      Sangat Bermanfaat Bagi Penderita Asma, Pneumonia Dan Angina Pectoris

      Menajamkan Penglihatan Dan Membantu Dalam Pengobatan Mata

      Bagi Wanita Dapat Mengobati Gangguan Rahim Dan Gangguan Haid

      Melancarkan Peredaran Darah, Meringankan Badan, Menghilangkan Sakit Bahu, Dada Dan Punggung

      Membantu Mengatasi Kemalasan, Lesu Dan Banyak Tidur

      Mengatasi Insomnia, Stress, Mimpi Buruk, Sering Kesurupan, Trauma, Rasa Takut Yang Berlebihan, Narkoba, Kurang Gairah

      Mengeluarkan Angin, Toksid, Dan Kolesterol Yang Membahayakan Bagi Tubuh

      Menyembuhkan Encok Dan Reumatik

      Mengatasi Gangguan Kulit, Alergi Jerawat Dan Gatal-Gatal

      Memulihkan Fungsi Tubuh

      Mengatasi Radang Selaput Jantung Dan Radang Ginjal

      Mengatasi Keracunan

      Dapat Menyembuhkan Luka Bernanah Dan Bisul

      Mengobati Masuk Angin, Darah Tinggi, Kolesterol, Stroke, Jantung Dan Asam Urat

      Mengobati Sakit Pinggang, Liver, Sakit Kepala, Sakit Mata, Impotensi, Sinusitis, Wasir Dan Maag.
      Peralatan Bekam

      Cupping Set, Dipergunakan Untuk Menghisap Titik-Titik Permukaan Kulit Yang Sudah Ditentukan. Gelas-Gelas Kaca Berdiameter Besar, Sedang, Kecil Dapat Digunakan Sesuai Dengan Daerah Yang Akan Dibekam

      Lancing Device, Alat Seperti Pulpen Untuk Memasukkan Jarum

      Lancing (Jarum )/ Blade Surgical (Pisau Bedah), Alat Ini Harus Steril. Digunakan Sebagai Penyayat Atau Memberikan Tusukan Kecil Dan Digunakan Hanya Satu Kali Pemakaian Untuk Satu Orang.

      Tensimeter Dan Glucometer

      Sarung Tangan, Masker, Tissue, Kapas Dan Kassa Steril

      Mesin Atau Pisau Cukur Untuk Mencukur Bulu-Bulu Halus Dan Rambut

      Alkohol, Minyak Habbatussauda/ But-But/ Zaitun, Betadine Dan H2O2

      Tempat Sampah
      Diagnosis Penyakit Melalui Bekas Pembekaman

      Bekas Bekam Yang Muncul Berwarna Ungu Kegelapan Atau Hitam,
      Adalah indikasi dari kondisi tubuh yang defisiensi (kekurangan) pasokan darah dan saluran pembuluh darah yang tidak lancar yang disertai dengan adanya pembekuan darah (stagnasi darah)

      Bekas Bekam Berwarna Ungu Disertai Flaque (Bercak-Bercak),
      Adalah indikasi dari adanya gangguan atau kelainan penggumpalan darah dan adanya darah statis

      Bekas bekam muncul warna bintik-bintik ungu yang tersebar dengan tingkatan warna yang berbeda (ada ungu tua dan ada ungu muda) hal ini menunjukkan kelainan chi dan adanya darah statis

      Bekas Bekam Yang Muncul Berwarna Merah Gelap,
      Hal ini mengindikasikan kondisi lemak dalam darah yang tinggi disertai dengan adanya panas patogen

      Bekas Bekam Yang Muncul Berwarna Agak Pucat/ Putih Dan Tidak Hangat Ketika Disentuh,
      Hal ini mengindikasikan terjadinya defisiensi cold (dingin) dan adanya gas patogen

      Adanya Garis-Garis Pecah/ Ruam Pada Permukaan Bekas Bekam Dan Rasanya Sedikit Gatal,
      Hal ini mengindikasikan kondisi adanya lembab pathogen dan gangguan gas patogen

      Munculnya Uap Air Pada Dinding Gelas Bekam,
      Menandakan kondisi adanya gas-gas patogen dalam daerah tersebut

      Adanya Blister (Lepuhan) Pada Bekas Bekam
      Menggambarkan kondisi gangguan gas yang parah pada tubuh . adanya darah tipis pada blister merupakan reaksi gas panas toksin.

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news